Senin, 03 Desember 2012
lirik " jogjakarta-kla project"
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Jumat, 30 November 2012
biografi soe hok gie
Soe Hok Gie adalah Orang
keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan
Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak
keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe
Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi
perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di
Jakarta.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24
Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian
dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar
Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan
teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar
dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang
belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan Seorang Demonstran
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe Hok Gie
§ Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah:
Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak
mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya
bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar:
kebenaran.
§ Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling
kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat
menghindari diri lagi, maka terjunlah.
§ Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang
sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
§ Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang
kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya
memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
§ Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan
prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap
kemunafikan.
§ Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya
laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi
"manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi
yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang
manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa,
sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
§ Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika
sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana
kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang
berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan
tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
§ Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental
sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan
golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik
saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu
oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
§ Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah
tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan,
sejarah tidak akan lahir?
§ Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha
penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala
yang non humanis…
§ Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi
memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang
merugikan pemerintah.
§ Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya
lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan
kekurangan-kekurangan kita.
§ Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di
tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di
Indonesia.
§ To be a human is to be destroyed.
§ Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi
pohon oak yang berani menentang angin.
§ Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi.
Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
§ I’m not an idealist anymore, I’m a bitter
realist.
§ Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena
sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
§ Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan
hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai
kedukaan.
§ Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak
melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas
jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu
kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah
saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis
sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya
ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di
jalanan, pada semua-muanya.
§ Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama
apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan
hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Kamis, 29 November 2012
jogjakarta
Jogjakarta
Sekitar delapan jam
perjalan menggunakan kereta PROGO kelas ekonomi, perjalanan diawali dari
stasiun kereta pasar senen. Hari yang cerah untuk memulai perjalanan ini. sudah
terbiasa aku merasakan suasana di dalam kereta ini, perjalanan kali ini
merupakan perjalanan ke dua kali nya menuju Jogjakarta bagi saya tetapi menjadi
yang pertama untuk dia. Sudah terbayang apa yang dia pikirkan pertama kali
menaiki kereta ini.
Waktu terus bejalan, matahari menampakkan wujudnya. Semua
hal yang dibutuhkan sudah dihandle dengan sangat baik mulai dari penginapan,
kendaraan hingga tempat wisata yang akan kami tuju tentu saja semua ada dalam
catatan ini. perjalanan kami diawali dengan menyusuri sejarah Jogjakarta mulai
dari museum Benteng Vrederberg hingga keraton Jogjakarta. Tempat yang unik untuk dikunjungi dengan beragam
pengetahuan yang tidak ternilai.
Menyusuri sejarah candi prambanan dan Istana Ratu Boko
menjadi tujuan selanjutnya. Istana Ratu Boko merupakan perkomplekan candi yang
berbeda dengan prambanan tetapi cukup berdekatan, diantar dengan mobil tak
kurang dari 30 menit ,kami akan tiba di perkomplekan candi diatas perbukitan.
Terdapat restaurant dengan pemandangan terbuka agar dapat melihat matahari
tenggelam di sore hari. Candi Prambanan memiliki keindahan tersendiri pada sore
hari, arsitekturnya yang sangat unik dapat menjadi objek fotografi yang bagus.
Hari
semakin gelap, akan sangat baik jika kembali ke penginapan untuk bersiap
menikmati keindahan malam Jogjakarta. Selain jalan Malioboro kita dapat
merasakan riuh kota ini dari alun-alun selatan keraton Jogjakarta. terdapat dua
pohon kembar yang memiliki mitos tersendiri bagi masyarakat local jika lewat
diantara keduanya. Terdapat sepeda hias yang dapat disewa untuk digunakan
berkeliling alun-alun keraton. Jangan terlalu malam, karena pedagang kaki lima
di sepanjang jalan Malioboro akan tutup pada tengah malam, pada saat itu juga
keramaian akan hilang tiba-tiba.
Esok
pagi mencari buah tangan merupakan waktu yang baik, berkeliling kota mencari
buah tangan mulai dari jalan Malioboro hingga ke pusat pengrajin perak kota
gede di Jogjakarta. sore hari akan menjadi moment yang pas melihat matahari
terbenam di sekitar pantai Parangtritis.
Rincian
dana:
·
Kereta PROGO Rp 35.000 x 2 = Rp 70.000
·
Penginapan Rp 70.000/mlm
·
Motor Rp
50.000/24jam
Jumat, 19 Oktober 2012
untuk jakarta
Pada tahun 2012
ini Jakarta serasa semakin panas makin hari. Kemacetan dimana-mana. Polusi udara
semakin membuat sesak. Sangat mengkhawatirkan kota Jakarta yang seharusnya
menjadi kota panutan bagi kota – kota yang lain. Kota Jakarta memiliki luas
661.5 m2 dan dengan populasi 8.522.589 pada riset tahun 2010. Terlalu banyaknya
polusi di jakarta membuat warganya memiliki tingkat kesehatan yang buruk,
seperti infeksi saluran pernafasan yang bahkan pada beberapa kasus menyebabka
kematian pada beberapa bayi.
Kita
sebagai generasi muda seharusnya bergerak dalam menuntaskan masalah ini. tidak
cukup hanya dengan satu atau dua pohon.tidak hanya butuh taman suropati, taman
ayodya, atau bahkan taman menteng tetapi kita membutuhkan sebuah kebun raya
bogor di pusat kota Jakarta. Aneh? Tidak menurut saya. Ini hal yang sangat
realistis dengan keadaan kota Jakarta saat ini. kurangnya lahan terbuka hijau
membuat begitu banyaknya permasalahan yang terjadi, mulai dari permasalahan
lingkungan hingga permasalahan kesehatan. Ini menjadi agenda penting kita sebagai
generasi muda. Tidak ada salahnya memiliki kebunraya bogor di pusat Jakarta,
bahkan salah satu kota di Amerika, Manhattan, memiliki taman serbaguna yang
begitu luas di sekitaran pusat perkantoran. Gerakan sekecil apapun akan
memberikan dampak yang sangat besar untuk suatu kemajuan yang positif.
Memang
dengan lahan terbuka hijau yang luas semua permasalahan tidak akan tuntas
begitu saja. Kesadaran kita untuk memelihara lingkungan ini juga merupakan hal
vital. Percuma memiliki taman bagus, hijau tetapi banyak sampah di sekitarnya. Percuma
memiliki lahan terbuka yang luas tetapi sungai tetap menjadi tempat pembuangan
akhir bagi warga bantaran kali.
Langkah
awal bagi pemerintah untuk memberikan informasi tentang sadar lingkungan kepada
masyarakat muda sangatlah penting, dikarenakan merekalah yang nanti akan
bereaksi akan informasi tersebut. memberikan fasilitas seperti tempat sampah
yang cukup di sekitar tempat umum juga janganlah disepelekan oleh pemerintah
dan warga sekitar pun juga diharuskan sadar akan ini.
resensi buku - Di Bawah Lentera Merah
Judul :
Di Bawah Lentera Merah : Riwayat Sarekat Islam Semarang, 1917 - 1920
Penulis : Hok Gie Soe, Frants Fanon
Foundation
Tahun terbit : 1999
Penerbit : yayasan bentang budaya, yogyakarta
Tebal :
108 halaman
Sebuah pribahasa “janganlah menilai buku dari covernya”
sangat pas sekali dengan buku ini. Awal mula melihat sampul buku ini terkesan
hanya akan tentang komunis yang akan di paparkan di dalam buku ini. Dibawah
lentera merah juga merupakan suatu judul buku yang terkesan begitu memiliki
rasa fasis kiri yang begitu kental. Dibawah lentera merah merupakan buku yang
ditulis oleh seorang aktifis yang begitu vocal pada masanya, Soe Hok Gie. Buku ini
merupakan skripsi sarjana muda nya. Berisi tentang pergerakan organisasi
Indonesia pada masa awal tahun 1900-an. Buku ini menceritakan perjalanan
organisasi yang perduli terhadap rakyat yang bergerak pada awal tahun 1900-an. Sarekat
Islam Semarang, organisasi pemuda Indonesia yang peduli terhadap kaum buruh dan
petani. Semua perjalanan organisasi mulai dari awal bangkitnya hingga
perjalanan para tokoh-tokoh berpengaruh pada masa nya. Isi dari buku ini merupakan kumpulan berita-berita surat
kabar serta wawancara langsung terhadap tokoh pergerakan yang masih hidup.
Buku ini sangat menarik bagi saya,
bacaan yang menarik untuk mahasiswa pada umumnya. Menelusuri sejarah organisasi
di Indonesia pada masa itu. tidak begitu panjang, walaupun memiliki bahasa yang
cukup rumit. Ada beberapa hal yang tidak begitu rinci di jelaskan pada buku
ini. Banyak kata-kata di dalam buku ini yang sulit untuk di pahami, dan tidak
ada penjelasannya kecuali catatan kaki tentang referensi tulisan buku tersebut.
seharusnya penerbit melakukan tambahan – tambahan seperti penjelasan kata-kata
yang agak sulit untuk di mengerti.
Sabtu, 06 Oktober 2012
3676 mdpl
Ranu kumbolo
Malam indah…
Seperti kami dan langit telah bersatu menjadi satu kesatuan
yang tak terlepaskan..
Membawa diriku menemui semua yang kucintai
Terdekap kabutmu,
Terselimut malammu,
Kami merasa sangat dekat.
Senyum kami pada semua keindahanmu.
Ranukumbolo, nama indah di ujung timur
Kami akan merasakan sejuk pagimu, dan indah malammu.
Tunggu kami…
Mahameru
Di puncak itu kami berjuang,kami bermimpi.
Lelap sekali, sampai kami akan selamanya tertidur dalam
mimpi itu.
Ketika fisik pada tapal batas…
Mental kami membangunkan kami dari mimpi yang tak pernah
usai.
Kugapai puncakmu, kucumbu pasirmu.
Puncak yang kau buat, untuk kami…
Para pemimpi,
Melihat Semarang
Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak,
dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk
menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu
daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon
asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar
atau nama daerah itu menjadi Semarang.
Malam
hari kereta melaju, pagi harinya kami tiba di stasiun poncol. Pagi hari
di kota itu membuat kantuk saya hilang dan bersiap menyantap soto ayam
di dekat stasiun. Merogoh kocek 6000 rupiah membuat saya kaget karna
begitu murah biaya hidup disini, rasanya sih gak enak tapi menurut dia
pantas untuk dicoba ketika turun dari kereta, hanyalah sedikit ritualnya
ketika sampai disini. Melanjutkan dengan angkutan umum menuju semarang
atas.
Wisata malam kami pilih dan yang gratis tentunya, bermodalkan satu motor teman kami. Bukit gombel merupakan sisi menarik buat saya, menikmati pemandangan kota semarang dari atas dengan disuguhi minuman hangat dan bercerita. Tepatnya tidak jauh dari universitas Diponegoro. Keesokan hari kami merencanakan untuk menuju “masjid agung Jawa Tengah “ yang katanya memiliki menara yang dapat berputar. Cukup membayar parkir kendaraan maka kami dapat memasuki wilayah masjid agung, sunggung masjid yang indah dan megah pada sore hari dengan payung-payung raksasa di halaman depannya. Di halamannya terdapat menara, tetapi tidak berputar pada saat itu.

Memang menara tersebut yang temanku maksud. Cukup membayar tidak lebih dari 5.000 rupiah untuk naik ke atas menara tersebut. di dalamnya terdapat restoran, tidak salah untuk mencoba beberapa menu disini dan harganya, harga pelancong!. Sungguh bagus sekali pemandangan dari atas menara pada malam hari, masjid agung malam itu mengeluarkan keindahannya, kota semarang menampakan cahayanya.
Makin malam kami menuju kota lama, seperti kota tua di Jakarta. Terdapat bangunan-bangunan tua yang sedikit menyeramkan dengan arsitektur bangunan Belanda, memiliki pandangan yang bagus sebagai objek fotografi. daerah ini sangat sepi pada malam hari, saya sedikit berhati-hati didaerah ini akan tindak kejahatan tetapi sepertinya orang2 disekitar sini sangatlah ramah-ramah. mungkin pada siang hari akan banyak turis lokal maupun mancanegara mengunjungi objek wisata ini.

Tak habis disini perjalanan kami. Esok hari kami mempersiapkan diri menuju “bandungan”, yang kalo saya sebut di Jakarta adalah puncak tapi ini adalah puncaknya semarang. Jalan berkelok menggunakan kendaraan beroda dua. Cukup jauh perjalanan kesana sekitar kurang lebih 2 jam. Melewati daerah industri yang cukup macet. Sampai disana hari menjelang gelap, kami pun tidak dikecewakan dengan pemandangan yang ada disana. Terdapat kegiatan outbond juga yang dapat dilakukan. Disini buka hingga jam lima sore. Selain itu terdapat beberapa penginapan disini. Hal yang kurang dari wisata ini hanyalah akses jalan menuju tempat ini kurang baik diluar itu semua cukup baik menurut saya untuk dinikmati dan tanpa adanya tiket masuk untuk menikmati keindahan disini. Satu hal yang menarik dari kota ini adalah begitu banyaknya tempat karaoke dipinggir jalan yang membuat tanda tanya bagi saya, selain itu betapa murahnya harga makanan di kota ini, sungguh kota yang nyaman, sejuk dan aman menurut saya.

thanks for:
Wisata malam kami pilih dan yang gratis tentunya, bermodalkan satu motor teman kami. Bukit gombel merupakan sisi menarik buat saya, menikmati pemandangan kota semarang dari atas dengan disuguhi minuman hangat dan bercerita. Tepatnya tidak jauh dari universitas Diponegoro. Keesokan hari kami merencanakan untuk menuju “masjid agung Jawa Tengah “ yang katanya memiliki menara yang dapat berputar. Cukup membayar parkir kendaraan maka kami dapat memasuki wilayah masjid agung, sunggung masjid yang indah dan megah pada sore hari dengan payung-payung raksasa di halaman depannya. Di halamannya terdapat menara, tetapi tidak berputar pada saat itu.
Memang menara tersebut yang temanku maksud. Cukup membayar tidak lebih dari 5.000 rupiah untuk naik ke atas menara tersebut. di dalamnya terdapat restoran, tidak salah untuk mencoba beberapa menu disini dan harganya, harga pelancong!. Sungguh bagus sekali pemandangan dari atas menara pada malam hari, masjid agung malam itu mengeluarkan keindahannya, kota semarang menampakan cahayanya.
Makin malam kami menuju kota lama, seperti kota tua di Jakarta. Terdapat bangunan-bangunan tua yang sedikit menyeramkan dengan arsitektur bangunan Belanda, memiliki pandangan yang bagus sebagai objek fotografi. daerah ini sangat sepi pada malam hari, saya sedikit berhati-hati didaerah ini akan tindak kejahatan tetapi sepertinya orang2 disekitar sini sangatlah ramah-ramah. mungkin pada siang hari akan banyak turis lokal maupun mancanegara mengunjungi objek wisata ini.
Tak habis disini perjalanan kami. Esok hari kami mempersiapkan diri menuju “bandungan”, yang kalo saya sebut di Jakarta adalah puncak tapi ini adalah puncaknya semarang. Jalan berkelok menggunakan kendaraan beroda dua. Cukup jauh perjalanan kesana sekitar kurang lebih 2 jam. Melewati daerah industri yang cukup macet. Sampai disana hari menjelang gelap, kami pun tidak dikecewakan dengan pemandangan yang ada disana. Terdapat kegiatan outbond juga yang dapat dilakukan. Disini buka hingga jam lima sore. Selain itu terdapat beberapa penginapan disini. Hal yang kurang dari wisata ini hanyalah akses jalan menuju tempat ini kurang baik diluar itu semua cukup baik menurut saya untuk dinikmati dan tanpa adanya tiket masuk untuk menikmati keindahan disini. Satu hal yang menarik dari kota ini adalah begitu banyaknya tempat karaoke dipinggir jalan yang membuat tanda tanya bagi saya, selain itu betapa murahnya harga makanan di kota ini, sungguh kota yang nyaman, sejuk dan aman menurut saya.
thanks for:
http://id.wikipedia.org/wiki/Semarang
Langganan:
Postingan (Atom)







