Sabtu, 04 Desember 2010

Tanah Neraka


Bangsa ini selalu dipenuhi konflik, mau itu konflik sosial masyarakat ataupun konflik politik, bahkan ada yang berkonflik karena permainan bola. Benar – benar lucu bangsa ini. Sepertinya rasa memaafkan dan lapang dada sudah tidak ada di raga bangsa ini. Mereka yang menyerukan keras – keras komunitas mereka membawa – bawa atribut dan berjanji sangat keras untuk kemajuan daerahnya hanya akan menyebarkan konflik dan dendam, mungkin bangsa ini tidak ditakdirkan untuk berkompetisi. Akal sehat dan waras sudah sangat lama sepertinya meninggalkan kita sehingga kita tidak dapat berfikir dengan jernih dan penuh perhitungan. Ketika dia berbicara semua ikut berbicara lebih lantang dari dia, ketika dia diam semua orang akan lebih lantang mengecam, memaki, mencerca dia lebih keras daripada kerasnya sebuah batu. Selalu saja konflik yang dialami di negeri ini.
            Perbedaan budaya di negeri ini yang sangat ketara menjadi salah satu faktor kenapa kita selalu bertikai. Perbedaan budaya berarti berbedanya bahasa, berbedanya cara bersosialisasi, berbedanya cara berfikir, serta berbedanya perilaku. Sebagai contoh, ketika seorang batak berbicara dengan logat dan bahasa daerahnya dengan seorang sunda yang berbahasa pula dengan logat dan bahasanya maka akan terjadi suatu kesalahpahaman antara seorang sunda dan seorang batak. Konflik antar individu pun terjadi, ketika mereka kembali ke kelompoknya maka konflik antar kelompok pun tidak dapat terelakan. Seperti halnya yang terjadi pada kasus perang sampit.
            Setiap masyarakat tidak dapat terpisahkan dengan kebudayaannya masing – masing. Kita juga dituntut agar dapat melestarikan kebudayaan kita. Setiap masyarakat harus dapat berfikir dengan akal pikiran bahwa berbedanya kebudayaan bukan menjadi alasan agar kita berkonflik, perbedaan lambang juga jangan di jadikan alasan untuk kita beradu jotos, perbedaan argumen jangan menjadikan kita saling memaki, serta perbedaan iman bukan menjadi alasan kita untuk saling membunuh. Kebudayaan merupakan alat untuk menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang kokoh dan solid. Bersatu dengan tulus akan jauh lebih baik daripada bersatu tetapi hanya ada diteriakan, hanya ada diseruan dan hanya ada di emblem jaket kita. Bangsa ini akan jauh lebih baik ketika kebudayaan menjadi satu dengan raga bangsa ini tanpa adanya konflik tetapi dengan rasa toleransi, saling menerima, menghargai dan menghormati satu sama lain. kita merupakan satu bahasa, satu darah dan satu tanah air. Mungkin bukan tanah air yang selalu adem digenangi air tetapi lebih cocok dengan tanah neraka yang selalu panas dan penuh dengan emosi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar